Korea Selatan Optimis Pembelian F-15 & Dassault Rafale “Terpisah” dari Proyek KFX/IFX

Proses Perakitan Prototipe Pertama KFX

Setelah sebelumnya kita digemparkan oleh rencana dari TNI Angkatan Udara untuk mengakuisisi berbagai alutsista baru seperti, pesawat tempur F-15 dan Dassault Rafale dalam periode 2021-2024. Tentu informasi tersebut memberikan “spirit” baru bagi TNI Angkatan Udara sebagai end user dan para pemerhati dunia militer di Indonesia, termasuk penulis sendiri. Namun, dibalik riak gembira kabar tersebut muncul kekhawatiran terkait nasib proyek pesawat tempur KFX/IFX bersama Korea Selatan. Kekhawatiran ini bukan tanpa sebab, pasalnya belum jelasnya keikut sertaan Indonesia didalam proyek ini. Mengingat seperti kita ketahui bersama Indonesia telah meminta negosiasi ulang terkait “porsi” Indonesia didalam proyek ini setelah sebelumnya juga Indonesia dilaporkan telah menunggak pembayaran iuran dana pengembangan proyek tersebut.

Sangat normal rasanya jika banyak dari kita yang berpikir/menebak bahwa dana pengembangan dalam proyek pesawat tempur KFX/IFX akan dialihkan untuk pembelian alutsista baru (F-15 dan Dassault Rafale) sesuai dengan informasi yang telah berkembang sejauh ini. Akan tetapi muncul kabar baru dari Korea Selatan, yang menginformasikan bahwa akuisisi alutsista baru khususnya pengadaan pesawat tempur F-15 dan Dassault Rafale “terpisah” dari proyek KFX/IFX, mengutip dari laman berita Korea Selatan world.kbs.co.kr, Minggu (21/02/2021).

Kokpit dari Pesawat Tempur KFX
Mockup dari kokpit pesawat tempur KFX.
Kredit: koreaherald.com

Adalah ADD (Agency for Defense Development/badan pengadaan persenjataan) Korea Selatan yang mengungkapkan optimismenya bahwa rencana Indonesia untuk membeli pesawat tempur F-15EX dari kontraktor pertahanan Amerika Serikat, Boeing, dan pesawat tempur Dassault Rafale dari Prancis merupakan program “terpisah” dari proyek pengembangan pesawat tempur gabungan antara kedua negara yang dikenal sebagai KF-X (Korean Fighter eXperimental) di Korea Selatan dan IF-X (Indonesian Fighter eXperimental) di Indonesia.

DAPA mengungkapkan optimismenya tersebut dalam sebuah pernyataan setelah media Indonesia dengan heboh menginformasikan bahwa Indonesia berencana untuk membeli pesawat tempur baru dalam periode 2021-2024. Kabar tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran atas penundaan pembayaran iuran dana pengembangan oleh Indonesia dalam proyek pesawat tempur gabungan KFX/IFX antara Korea Selatan dan Indonesia.

Melalui KFX Korea Selatan Mengincar Pijakan di Pasar Global
Kantor pusat KAI di Sancheon, Korea Selatan.
Kredit: koreaherald.com

DAPA menilai bahwa rencana pembelian pesawat tempur F-15 dan Dassault Rafale seperti yang diberitakan oleh berbagai media, merupakan masalah yang terpisah dari skema pembangunan bersama pesawat tempur KF-X/IFX. DAPA juga menambahkan bahwa rencana akuisisi pesawat tempur baru baik F-15EX atau Dassault Rafale adalah rencana yang sedang diupayakan oleh Indonesia untuk meningkatkan kekuatan Angkatan Udara-nya. DAPA kembali menegaskan bahwa Indonesia telah menyatakan niatnya untuk terus berpartisipasi dalam proyek bersama KF-X/IFX.

Kunjungi Juga:  Indonesia Ingin Membeli Pesawat Tempur Dassault Rafale

Diinformasikan juga bahwa kedua negara telah melaksanakan putaran negosiasi untuk menemukan win-win solution yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Ketika negosiasi selesai, DAPA akan segera mengungkapkan hasilnya kepada negara. Menurut penulis, rasa optimisme Korea Selatan tersebut beralasan mengingat ambisi dari negara tersebut untuk mengincar “pijakan” dipasar global (industri kedirgantaraan) melalui KFX.

Interview menarik terkait pengembangan proyek KFX.
Kredit: youtube/South Korean Military Chanel

Sudah bukan rahasia lagi jika perusahaan dirgantara Korea Selatan, KAI (Korea Aerospace Industries) berusaha mengejar inisiatif yang lebih luas untuk mengukir kehadirannya di pasar dirgantara global, yang saat ini didominasi oleh negara mapan seperti, Amerika Serikat, Eropa, dan Rusia. Melalui KFX, Korea Selatan berupaya menghadirkan “produk/platform” fighter generasi 4.5 (Block 1) dengan harga terjangkau bagi negara-negara yang membutuhkan pesawat tempur pengganti. Untuk itu kehadiran Indonesia dipandang penting karena merupakan kuda troya pasar potensial sekaligus konsumen pertama dari produk/paltform ini. Dengan diakuisisinya produk KFX oleh Indonesia sacara otomatis memberikan “trust” bagi konsumen lainnya untuk melakukan langkah yang sama, disamping juga bertujuan untuk mencapai BEP (break event point).

Sama seperti pesawat latih jet T-50 Golden Eagle yang begitu diakuisisi oleh Indonesia, negara lainnya juga mengikuti untuk mengakuisisi pesawat ini seperti, Thailand, Philipina, Irak dll. Tentunya Korea Selatan berharap hal yang sama terulang di KFX. Saat ini Korea Selatan memegang pangsa pasar kurang dari 1 persen dari $ 617 miliar “perputaran uang” di industri kedirgantaraan global, yang berarti terdapat banyak ruang untuk dieksploitasi lebih jauh. Apalagi kehadiran pandemi Virus Corona-19 berpotensi untuk merestrukturisasi industri kedirgantaraan global dan Korea Selatan dengan cermat berencana untuk memanfaatkan peluang tersebut.

Share this article
Seorang militer enthusiast dan silent reader dibeberapa forum serta website militer baik dalam maupun luar negeri yang akhirnya memutuskan untuk mulai menulis diblog ini. Hobby mengoleksi artikel, literatur, buku serta apapun yang berhubungan dengan militer.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *