Bakamla Curigai Motif Buruk Kapal Survei China di Selat Sunda

Bakamla Curigai Motif Buruk Kapal Survei di Selat Sunda

Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Laksdya TNI Aan Kurnia mencurigai kapal survei milik China Xiang Yang Hong 03 yang dicegat perairan Selat Sunda pada bulan Januari lalu sempat mengoperasikan peralatan sensor bawah air, dilansir dari nasional.kompas.com, Selasa (02/02/2021). Kecurigaan Bakamla dilatar belakangi oleh turunnya kecepatan ideal kapal dari 10 sampai 11 knot menjadi 6 hingga 8 knot. Terlebih lagi, Xiang Yang Hong 03 juga diketahui tiga kali mematikan Automatic Identification System ( AIS). Hal ini disampaiakan beliau saat melakukan Rapat Kerja dengan Komisi I DPR RI di gedung DPR, Jakarta.

“Jadi kalau kecepatan 6 sampai 8 (knot) itu adalah optimum sonar speed, kecepatan yang ideal untuk mengoperasikan peralatan sensor bawah air. Ini bisa saja ketika dia mematikan AIS, mengoperasikan ini (sensor bawah air).” 

Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla), Laksdya TNI Aan Kurnia

Menurut pria yang pernah berkarir di TNI Angkatan Laut dan memiliki spesialisasi peperangan antiselam tersebut, sangat mengetahui betul bagaimana sebuah kapal bisa mengoperasikan sensor bawah air. Apalagi, kapal tersebut sempat mematikan sistem AIS kurang lebih sebanyak tiga kali. Sehingga patut dicurigai bahwa kapal survei tersebut memiliki niat negatif ketika memasuki perairan Indonesia.

Dalam kesempatan itu, beliau juga menyinggung perihal sanksi dan penegakan hukum di laut, terutama bagi kapal-kapal asing yang mematikan AIS di perairan Indonesia. Menurut peraturan saat ini, kapal yang mematikan AIS hanya diberi sanksi administrasi. Padahal mematikan AIS di wilayah perairan negara lain tentu berpotensi melakukan pelanggaran atau berniat melakukan hal-hal negatif.

Kapal Xiang Yang Hong 03 1
Kapal Survei China Xiang Yang Hong 03.
Kredit: pinterest.com

Oleh karena itu, beliau beropini bahwa pemberian sanksi administrasi pada kapal yang mematikan AIS dinilai sangat ringan dan berimbas pada banyaknya pelanggaran serupa tanpa ada efek jera. Disisi lain, Bakamla memang tak memiliki kewenangan apapun berkaitan dengan sanksi berat untuk kapal-kapal asing yang kedapatan mematikan AIS di perairan Indonesia.

Kunjungi Juga:  Estonia Menerima Howitzer Self Propelled K9 Thunder Dari Korea Selatan

Padahal jika Bakamla atau pihak berwenang lain bisa memberi saksi berat yang menyebabkan efek jera dinilai tak akan banyak persoalan kedaulatan laut di Indonesia. Untuk kedepannya, beliau berharap ketua bersama anggota Komisi I berkomitmen untuk dapat menciptakan aturan yang dapat memberikan efek jera terhadap pelanggar AIS di perairan Indonesia.

Kapal China Xiang Yang Hong 03
Kapal Survei China Xiang Yang Hong 03.
Kredit: pinterest.com

Sebelumnya, kapal survei milik China Xiang Yang Hong 03 diketahui mematikan AIS sebanyak tiga kali selama melintasi Alur Laut Kepulauan Indonesia–I (ALKI-I). Kapal tersebut mematikan AIS-nya ketika melintasi Laut Natuna Utara, Laut Natuna Selatan, dan Selat Karimata. Padahal merujuk Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 7 Tahun 2019 tentang Pemasangan dan Pengaktifan Sistem Identifikasi Otomatis bagi Kapal yang berlayar di Wilayah Perairan Indonesia tertanggal 20 Februari 2019, dsebutkan setiap kapal berbendera Indonesia dan kapal asing yang berlayar di wilayah perairan Indonesia wajib memasang dan mengaktifkan AIS.

Share this article
Seorang militer enthusiast dan silent reader dibeberapa forum serta website militer baik dalam maupun luar negeri yang akhirnya memutuskan untuk mulai menulis diblog ini. Hobby mengoleksi artikel, literatur, buku serta apapun yang berhubungan dengan militer.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *