Akhirnya Menhan Austria Membalas Surat Prabowo Terkait Penjualan Eurofighter Typhoon Ke Indonesia

Penjualan Eurofighter Typhoon

Setelah cukup lama menanti akhirnya kabar gembira datang dari Austria, tentu saja ini terkait dengan penjualan pesawat tempur Eurofighter Typhoon ke Indonesia. Melansir surat kabar Austria, krone.at, Minggu (06/09/2020), melaporkan bahwa menteri pertahanan Klaudia Tanner dari Partai Rakyat Austria telah secara resmi membalas sekaligus mengonfirmasi minat Indonesia untuk membeli 15 unit pesawat tempur Eurofighter Typhoon serta ia berencana untuk memulai negosiasi penjualan konkret dengan mitranya di Jakarta, Prabowo Subianto. Pada saat yang sama, dia memerintahkan Staf Umum untuk mempersiapkan segala sesuatunya terkait proses penjualan yang dapat direkomendasikan. “Kami dengan senang hati menerima minat anda untuk membeli lima belas Eurofighter Austria untuk memodernisasi armada udara anda”, ujar Klaudia Tanner.

Sebelumnya pada tanggal 19 Juli 2020 Indonesia menunjukkan minat ketertarikannya pada pesawat tempur Eurofighter Typhoon Austria melalui sepucuk surat yang dikirimkan oleh menteri pertahanan Indonesia Prabowo Subianto kepada koleganya menteri pertahanan Austria Klaudia Tanner. Sontak berita ini membuat gempar banyak pihak, publik Austria bertanya-tanya apakah informasi tersebut valid?, dan jika benar adanya berarti ini kesempatan sekaligus peluang untuk keluar dari sistem Eurofighter yang sudah lama mendapat sentimen negatif di dalam negeri. Sementara itu, di Indonesia juga tidak kalah heboh berbagai opini pro dan kontra dari berbagai pihak mewarnai jalannya pemberitaan tersebut.

EF Typhoon Austria
Pesawat tempur Eurofighter Typhoon milik AU Austria sedang bermanuver dalam gelaran airshow. Kredit : defence.pk

Sebagaimana kita ketahui bersama, Austria berusaha menyingkirkan menjual pesawat Eurofighternya setelah hanya 15 tahun beroperasi bukanlah suatu rahasia umum. Cerita dimulai ketika Wina secara kontroversial memilih Eurofighter Typhoon ketimbang Saab JAS 39C/D Gripen pada awal tahun 2003 kemudian kontrak dinegosiasikan ulang pada tahun 2007. Karena keterbatasan anggaran Austria terpaksa memangkas jumlah pesawat yang diakuisisinya dari semula 18 unit menjadi 15 unit. Tidak sampai disana spesifikasinya pun di downgrade, dari standar Tranche 2 yang lebih canggih menjadi standar tranche 1 dengan kemampuan yang lebih terbatas. Berikut lebih detail spesifikasi Eurofighter typhoon yang telah di downgrade yaitu meliputi:

  • Absennya Sensor inframerah Pirate
  • Tidak memiliki Helmet Mounted Display
  • Tidak dilengkapi dengan sistem perlindungan diri EuroDASS
  • Belum mendukung beyond visual range (BVR) air to air missile
  • Terbatasnya kemampuan ait to ground
Kunjungi Juga:  Prabowo Dijadwalkan Berkunjung Ke Austria Untuk Membahas Penjualan Eurofighter Typhoon

Ini belum termasuk biaya operasional per jam penerbangannya yang konon mencapai 80.000 Euro dan lebih dari 100 Juta Euro dihabiskan setiap tahun untuk biaya oprasional ke-15 pesawat tempur Eurofighter Typhoon tampaknya telah menjebol menguras anggaran pertahanan Austria. Ditambah berbagai tuduhan korupsi, gangguan konversi, dan sengketa hukum yang telah menyebabkan kehebohan selama dua dekade terakhir.

Meskipun telah mendapatkan respon yang positif dari Austria, tapi proses penjualan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pasalnya, penjualan pesawat tempur Eurofighter Typhoon ke Indonesia harus mendapatkan persetujuan dari beberapa negara. Karena prasyarat Austria untuk dapat menyerahkan peralatan militer ke Indonesia adalah selain konsesus politik didalam negeri, maka diperlukan persetujuan dari keempat negara konsursium pembuat Eurofighter Typhoon ( Inggris, Jerman, Italia dan Spanyol ). Tidak hanya itu, penjualan Eurofighter Typhoon juga harus mendapatkan restu dari Amerika Serikat dikarenakan GPS dan beberapa komponen lainnya yang terpasang pada Eurofighter Typhoon merupakan produksi AS.

Pesawat EF Typhoon Austria
Pesawat tempur Eurofighter Typhoon Austria dengan latar pegunungan Alpen. Kredit: krone.at

Jika nantinya proses negosiasi berjalan lancar maka terdapat dua opsi yang paling mungkin untuk direalisasikan, yaitu sebagai berikut:

  1. Opsi pertama yaitu pihak Airbus Defence and Space mengeluarkan sertifikat pengguna akhir baru untuk penggunaan jet di Indonesia dengan persetujuan Inggris, Jerman, Italia serta Spanyol dan Austria menjual langsung ke Indonesia.
  2. Sementara opsi kedua yaitu Airbus membeli kembali jet dari Austria, kemudian melakukan serangkaian upgrade dan baru mengirimkannya ke Indonesia.

Diatas kertas rencana pegadaan pesawat tempur Eurofighter tampak berjalan kearah positif namun perlu kita garis bawahi bersama bahwa ini hanyalah langkah kecil dari serangkaian jalan terjal yang harus ditempuh sebelum akhirnya pesawat tersebut dapat mendarat mulus dirumah barunya di Indonesia. Sekedar me-refresh kembali ingatan kita bahwa pengadaan pesawat tempur Eurofighter typhoon telah mendapatkan respon negatif di parlemen Indonesia. Perwakilan partai oposisi menuduh menteri pertahanan Prabowo Subianto melanggar undang-undang terkait pengadaan alutsista dari produsen luar negeri. Disamping itu intruksi dari presiden Joko Widodo untuk tidak membeli alutsista bekas dari negara lain tampaknya turut serta menjadi batu sandungan.

Kunjungi Juga:  Amankan Perairan Ambalat, TNI AL Kerahkan KRI I Gusti Ngurah Rai

Sumber Refrensi:

  1. https://www.krone.at/2223112
  2. https://defence.pk/pdf/threads/indonesia-defence-forum.229571/page-2214

Share this article
Seorang militer enthusiast dan silent reader dibeberapa forum serta website militer baik dalam maupun luar negeri yang akhirnya memutuskan untuk mulai menulis diblog ini. Hobby mengoleksi artikel, literatur, buku serta apapun yang berhubungan dengan militer.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *