Mengapa Thailand Memodernisasi Gripen ke Standar MS20 Ketimbang Menambah Pesawat Tempur Baru?

Mengapa Thailand Memodernisasi Gripen ke Standar MS20 Ketimbang Menambah Pesawat Baru

Pada tahun fiskal 2021 ini, semua angkatan bersenjata Thailand harus memotong anggaran mereka sebagai dampak dari krisis ekonomi yang disebabkan oleh wabah Covid-19. Wabah tersebut memaksa pemerintah Thailand untuk meminjam ratusan miliar baht untuk memulihkan sektor ekonomi negara tersebut. Oleh karena itu, program pengadaan peralatan militer adalah salah satu program negara pertama yang dipangkas. Dengan dipangkasnya anggaran tersebut, RTAF (Royal Thai Air Force/Angkatan Udara Thailand) mau tidak mau harus menemukan win-win solution untuk meningkatkan kemampuan peralatan, teknologi dan logistik mereka. Dengan budget kurang lebih 631 juta baht RTAF akhirnya memutuskan untuk memodernisasi armada Gripen C/D ke standar MS20.

Standar MS20 merupakan program modernisasi yang diinisiasi oleh Saab yang ditujukan untuk pesawat tempur Gripen C/D yang dimana bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pesawat mealui serangkaian upgrade perangkat lunak. Adapun item upgrade dalam standar MS20 meliputi, meningkatkan kemampuan sistem CDL-39 Datalink untuk mendukung misi dukungan udara, menambahkan dukungan untuk Link-16 (sistem Datalink standar NATO), menambahkan Sistem Auto GCAS/Penghindaran Tabrakan Darat Otomatis, peningkatan kemampuan radar dan sensor, dukungan tambahan untuk mensupport rudal air to air jarak jauh MBDA Meteor dan GBU -39 Small Diameter Bomb dll.

Seperti kita ketahui bersama, saat ini RTAF mengoperasikan armada Gripen C/D dengan jumah pesawat 11 unit (1 unit pesawat total loss dalam sebuah insiden kecelakaan). Pada tahun 2018 lalu RTAF merilis hasil investigasi atas satu kecelakaan Gripen C yang mengakibatkan kematian pilotnya. Insiden tersebut merupakan kasus kematian pertama sejak pesawat tempur Gripen beroperasi di negara tersebut. Dalam hasil investigasi tersebut menyimpulkan bahwa kecelakaan tersebut disebabkan oleh pilot mengalami disorientasi spasial yang dimana ketidakmampuan pilot untuk menafsirkan dengan benar kondisi pesawat, ketinggian atau kecepatan udara dalam kaitannya dengan bumi atau titik acuan lainnya sehingga mengakibatkan pilot kehilangan kontrol pesawat yang berakhir dengan sebuah kecelakaan tragis. Disorientasi spasial adalah salah satu penyebab paling umum dari kecelakaan udara.

Kunjungi Juga:  Analisis Prototipe Pertama Pesawat Tempur KFX/IFX

Belajar dari insiden tersebut, RTAF memutuskan untuk beriventasi dengan mengistal sistem Auto GCAS pada armada Gripen yang tersisa diharapkan dengan kehadiran perangkat ini akan meminimalisir kemungkinan terjadinya insiden. Fungsi sistem Auto GCAS yaitu memperingatkan pilot jika pilot sedang dalam kondisi tidak sadarkan diri yang berpotensi pilot kehilang control/kendali dari pesawat. Jika pilot masih tidak menanggapi, sistem akan secara otomatis akan mengambil alih pesawat itu sendiri untuk merecovery pesawat, dan ketika pilot merespon, sistem secara otomatis akan mengembalikan control/kendali utama kembali ke pilot. 

Gripen C D
Pesawat tempur Gripen C/D.
Kredit: pinterest.com

Selain itu, peningkatan MS20 Gripen akan memberi Gripen kemampuan untuk mengoperasikan rudal air to air jarak jauh Meteor yang sangat diminati oleh RTAF. Modernisasi ini juga akan meningkatkan kemampuan dari radar PS-05 / A ke versi Mk.4 yang akan memiliki peningkatan kemampuan deteksi hingga 100%, yang akan cocok untuk dikawinkan dengan rudal Meteor. Dengan hanya mengubah Unit Pemrosesan, tidak perlu mengganti antena parabola atau peralatan lainnya.

Rudal air to air jarak jauh Meteor adalah salah satu rudal paling efisien di dunia. Rudal ini memiliki zona kill luas jika dibandingkan rudal air to air lainnya sehingga berpotensi tinggi untuk menembak pesawat tempur musuh. Pasalnya rudal tersebut menggunakan mesin Ramjet yang meningkatkan jangkauan, manuver dan kemampuannya untuk mempertahankan energi kinetik di fase terminal akhir.

Gripen RTAF
Pesawat tempur Gripen C/D RTAF.
Kredit: pinterest.com

Jika dibandingkan dengan rudal yang menggunakan bahan bakar/propelan padat konvensional yang biasanya terbakar dengan cepat dan rudal secara perlahan kehilangan energi kinetik saat bergerak menuju targetnya. Dikawinkan dengan sistem two way datalink/data link dua arah antara rudal dan pesawat yang memungkinkan pesawat yang menembak bermanuver keluar dari pertarungan tanpa perlu repot terus menyalakan radarnya mengikuti target. Sehingga membuat pesawat lebih aman dari serangan balik pesawat musuh.

Kunjungi Juga:  Analisis Apakah Pesawat Latih Airbus AFJT Memiliki Potensi di Market?

Namun masalah utama dari rudal Meteor adalah harganya yang mencapai luar angkasa € 2 juta (US$2,3 juta) perbiji, dua hingga tiga kali lebih mahal dari AIM-120C-5 AMRAAM sehingga sulit untuk direalisasikan. Karena harganya yang mahal tersebut, kemungkinan RTAF akan mengakuisisi beberapa biji dan mengintegrasikan rudal Meteor bersama dengan AMRAAM yang lebih murah tetapi jaraknya lebih pendek. Untuk beroperasi sesuai kebutuhan tanpa harus memasok rudal Meteor baru dalam jumlah besar.

Modernisasi Gripen C/D RTAF kestandar MS20.
Kredit: youtube/thaiarmedforce

Penutup

Seperti dijelaskan diatas, dengan dipotongnya anggaran tidak realistis untuk me-replace pesawat yang jatuh tersebut dengan pesawat baru. Jadi alih-alih membeli pasawat baru, RTAF dengan bijaksana memutuskan untuk memodernisasi ke 11 unit armada Gripen C/D tersisa ke standar MS20. Sekian dari penulis, semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian dan mohon maaf jika terdapat kekurangan dalam tulisan ini. Tidak lupa penulis mengharapkan kritik yang konstruktif serta saran dari pembaca yang budiman, silakan disampaikan dalam form komentar dibawah. Salam dari penulis nusantaradefense.com dan sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Sumber Referensi:

  1. https://thaiarmedforce.com/2021/02/07/rtaf-gripen-ms20-upgrade/
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/Saab_JAS_39_Gripen
  3. https://www.saab.com/newsroom/press-releases/2016/gripen-leads-the-world-with-new-operational-capabilities
  4. https://www.bangkokpost.com/thailand/general/1394010/pilot-disorientation-blamed-for-gripen-fighter-crash
  5. https://www.lockheedmartin.com/en-us/products/autogcas.html
  6. https://www.mbda-systems.com/product/meteor/
Share this article
Mengapa Thailand Memodernisasi Gripen ke Standar MS20 Ketimbang Menambah Pesawat Baru
Next Post

No more post

Seorang militer enthusiast dan silent reader dibeberapa forum serta website militer baik dalam maupun luar negeri yang akhirnya memutuskan untuk mulai menulis diblog ini. Hobby mengoleksi artikel, literatur, buku serta apapun yang berhubungan dengan militer.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *