Indonesia Diberitakan Akan Mundur Dari Proyek KFX/IFX

Indonesia Dikabarkan Akan Mundur Dari Proyek KFX_IFX

Kabar kurang sedap datang mengawali awal tahun 2021, Indonesia diberitakan akan mundur dari proyek KFX/IFX. Kabar ini berhembus mengingat proyek ambisus untuk merancang dan memproduksi pesawat tempur yang dinamakan KF-X (Korean Fighter eXperimental) di Korea Selatan dan IF-X (Indonesian Fighter eXperimental) di Indonesia tersebut. Sempat terganggu akibat Pemerintah Indonesia gagal membayar tunggakan biaya untuk pengembangan pesawat tersebut.

Mengutip dari laman berita koreajoongangdaily.joins.com, Senin (28/12/2020), melaporkan bahwa proyek pesawat tempur asli dalam negeri Korea Selatan kemungkinan akan memberikan beban lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya kepada para pembayar pajak di dalam negeri Korea Selatan. Hal ini disebabkan karena Indonesia gagal memenuhi tanggung jawab untuk membayar tunggakan biaya untuk pengembangan pesawat tersebut.

Perkembangan Proyek KFX IFX
Prototipe pertama pesawat tempur KFX.
Kredit: KAI

Dalam laporannya juga menyebutkan bahwa total biaya pengembangan pesawat tempur KFX/IFX diperkirakan sekitar 8,5 triliun won ($7,8 miliar), di mana 1,6 triliun won, atau 20%, harus dibayar oleh Indonesia berdasarkan kontrak kemitraan bersama kedua negara yang ditandatangani pada tahun 2016. Namun, Indonesia hanya membayar 227,2 miliar won dari 831,6 miliar won yang dijanjikan untuk tahun ini. Pembayaran yang dilakukan oleh Jakarta selama ini hanya mencakup sekitar 13 persen dari komitmennya.

Selain itu, Indonesia tidak mengirimkan kembali 114 spesialis teknisi dari PT Dirgantara Indonesia, yang dipulangkan pada bulan Maret tahun lalu, karena merebaknya wabah virus corona di Korea Selatan. Untuk mendorong partisipasi Indonesia, badan pengadaan persenjataan Korea Selatan DAPA (Defence Acquisition Program Administration) telah mengutus negosiator untuk mengunjungi Indonesia pada bulan September tahun lalu. Dalam pertemuan tersebut dikabarkan bahwa pihak Indonesia meminta negosiasi ulang terkait kesepakatan proyek KFX/IFX yang dimana Indonesia meminta lebih banyak transfer teknologi sebagai imbalan atas komitmennya, serta pengurangan beban pembiayaan dari awalnya 20 persen menjadi 15 persen. Sayangnya, tidak ada kesepakatan dalam negosiasi terebut.

Perakitan KFX IFX
Proses perakitan prototipe pesawat tempur KFX.
Kredit: KAI

Sementara itu, di dalam negeri sendiri informasi terkait perkembangan proyek KFX/IFX ini masih simpang siur. Melansir dari laman berita nasional cnbcindonesia.com, Kamis (31/12/2020), menginformasikan Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sakti Wahyu Trenggono sempat buka-bukaan mengenai nasib proyek ini ke depannya. Meski tak secara eksplisit menyebut bahwa proyek ini batal, namun dia menyampaikan bahwa benefit yang didapat Indonesia dalam proyek ini tak terlalu signifikan.

“Gini, KFX itu kan pesawat tempur. Kita ngirim engineer ke Korea. Ini saya mempelajari. Kita mesti spending US$ 2 miliar, lalu ujungnya kita dapat 1 prototipe. Kita punya ownership itu kira-kira cuma 15%. Tapi ada 9 teknologi yang dikuasai Korea, itu kita nggak dikasih, nggak boleh.”

Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono
Prototipe KFX IFX
Prototipe pertama pesawat tempur KFX.
Kredit: KAI

Dengan hanya satu prototipe tersebut, nantinya ternyata Indonesia tak memiliki porsi kepemilikan penuh. Bahkan, Indonesia hanya memiliki porsi kepemilikan minoritas, adapun mayoritasnya menjadi milik Korsel. Belum lagi, ada ketentuan mengenai batas usia bagi para engineer Indonesia yang dikirimkan ke Korsel. Padahal, dari pengiriman engineer ini, pemerintah berharap ke depannya ada transfer teknologi ke tanah air.

Kunjungi Juga:  KRI Sultan Hasanuddin-366 Laksanakan Latihan Bersama di Laut Mediterania

Sebelumnya, penulis telah menginformasikan Indonesia dilaporkan hampir mencapai kesepakatan untuk membeli 48 pesawat tempur Dassault Rafale sebagai bagian dari kesepakatan kerja sama pertahanan komprehensif dengan Prancis. Menurut beberapa sumber tawaran yang diberikan oleh Prancis lebih “menggiurkan” dengan transfer teknologi pesawat tempur yang jauh lebih besar yang nampaknya telah memikat Indonesia.

Video promosi pesawat tempur KFX.
Kredit: youtube/South Korean Military Channel

Well, menurut penulis apapun keputusan yang diambil oleh kedua belah pihak memiliki sisi positif dan negatif. Jika pemerintah Indonesia akhirnya mengakhiri hubungan kerja sama terkait pengembangan proyek KFX/IFX bersama Korea Selatan dan memilih untuk mengakuisisi pesawat tempur Dassault Rafale, ini merupakan keputusan yang rasional mengingat Dassault Rafale merupakan pesawat tempur yang “battle proven” (teruji) sementara pesawat tempur KFX/IFX saat ini masih merupakan pesawat “kertas” (cetak biru) yang bahkan belum terbang. Namun, memang Indonesia harus “merelakan” 227,2 miliar Won biaya pengembangan yang telah disetorkan.

Sementara itu, apapun keputusan yang diambil oleh Indonesia terkait proyek ini, Korea Selatan tetap bersikeras untuk melanjutkan proyek tersebut sesuai dengan rencana. Akan tetapi, hilangnya partisipasi Indonesia akan memberikan beban lebih banyak kepada para pembayar pajak dan hilangnya “slot” pesanan Indonesia akan mengakibatkan berkurangnnya jumlah keseluruhan pesananan yang secara tidak langsung akan “melambungkan” harga per unit dari pesawat tersebut dan ini bukanlah kabar bagus untuk prospek ekspor pesawat tersebut dimasa depan.

Sumber Referensi:

  1. https://koreajoongangdaily.joins.com/2020/12/28/national/defense/KFX-Indonesia-Korea/20201228164600519.html?detailWord=
  2. https://www.cnbcindonesia.com/news/20201231095117-4-212736/ternyata-ini-yang-bikin-ri-tak-happy-bikin-jet-tempur-kfx
  3. https://www.youtube.com/watch?v=UPwd7b_SMco
Share this article
Seorang militer enthusiast dan silent reader dibeberapa forum serta website militer baik dalam maupun luar negeri yang akhirnya memutuskan untuk mulai menulis diblog ini. Hobby mengoleksi artikel, literatur, buku serta apapun yang berhubungan dengan militer.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *