Opini Ambisi China Membangun Kapal Induk “Statis” di LCS

Ambisi China Membangun Kapal Induk Statis di LCS

Ditengah kekacauan dan ketidakpastian yang melanda negara-negara di seluruh dunia yang disebabkan oleh pandemi Covid-19. Pelan namun pasti China terus menggeber ambisinya di Laut China Selatan. Baru-baru ini sebuah citra satelit menunjukkan bahwa pesawat angkut terbesar China Y-20 telah mendarat di landasan udara buatan yang dibangun di pulau terumbu karang di Kepulauan Spratly, namun memang tidak terlihat aktivitas memuat atau membongkar kargo (muatan). Aktivitas tersebut sekaligus menunjukkan kemampuan dari PLA (People’s Liberation Army) untuk memproyeksikan kekuatan ekspedisi militernya terutama kemampuannya untuk mengangkut pasukan dan peralatan ke pos-pos terluar di Laut China Selatan.

Secara politis, aktivitas tersebut menunjukkan secara mantap tekad China untuk mempertahankan kehadirannya secara permanen di Laut China Selatan. Melawan pengaruh Amerika Serikat dan sekutunya serta secara tidak langsung juga mengorbankan kedaulatan tetangganya yang seperti kita ketahui bersama masing-masing memiliki klaim tumpang tindih di Laut China Selatan.

Xian Y 20
Pesawat kargo militer terbesar China Xi’an Y-20 Kunpeng.
Kredit: pinterest.com

Kapal induk “statis” yang dibangun oleh Cina di pulau tidak berpenghuni di sekitar Laut Cina Selatan telah terbukti menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan pengaruh dari otoritas Beijing di wilayah tersebut. Dalam hal ini, ini bukan hanya tentang sebidang pulau terumbu karang kecil yang menonjol dari permukaan air yang kemudian diduduki secara ilegal oleh militer China dan kemudian diubah menjadi sebuah kapal induk “statis” untuk tempat bercokol militernya, namun juga tentang perairan di sekitarnya yang dimasa depan dapat dianggap sebagai miliknya (secara ilegal) lengkap beserta dengan hak untuk mengeksploitasi seluruh sumber daya alam berharga yang terletak di sana.

Contoh ekspansi agresif dari China di Laut China Selatan adalah pulau terumbu karang (Fiery Cross Reef) di bagian selatan Laut Cina Selatan (juga dikenal sebagai Laut Filipina Barat), yang telah dirampas dan diubah menjadi sebuah kapal induk “statis” oleh otoritas Beijing. Kehadiran kapal induk “statis” tersebut secara signifikan meningkatkan radius penerbangan pesawat militernya. Tidak sampai disana, Beijing juga secawa sewenang-wenang mengklaim serta wilayah perairan tersebut sebagai Zona Ekonomi Eksklusif-nya (ZEE). 

Fiery Cross Reef Island
Fiery Cross Reef Island yang telah diubah menjadi kapal induk “statis”.
Kredit: Pinterest.com

Aktivitas tersebut tentu saja sangat bertentangan dengan keputusan pengadilan Arbitrase Internasional di Den Haag pada tahun 2016, yang menyatakan bahwa klaim otoritas Beijing di Laut China Selatan tidak berdasar dan investasi konstruksi yang dilakukan oleh China di perairan tersebut sepenuhnya ilegal. Namun sayangnya, hasil keputusan tersebut hanya dianggap “angin” lalu oleh China. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika negara-negara di sekitar Laut China Selatan serta Amerika Serikat sangat khawatir ketika pesawat angkut militer terbesar China Xi’an Y-20 Kunpeng yang memiliki kemampuan untuk mengangkut lebih dari 55 ton kargo mulai mendarat di pangkalan buatan di pulau terumbu karang di Kepulauan Spratly. 

Sebenarnya, tidak hanya Filipina yang memprotes aktivitas ilegal Cina tersebut, tetapi semua negara Asia Tenggara yang memiliki klaim tumpang tindih dengan Nine Dash Line China juga ikut melayangkan protes. Perlu kita catat bersama terkait Nine Dash Line China merupakan sembilan titik imaginer yang menjadi dasar bagi China, dengan dasar historis, untuk mengklaim wilayah Laut China Selatan. Titik-titik ini dibuat secara sepihak oleh China tanpa melalui konvensi hukum laut internasional di bawah PBB atau UNCLOS 1982 di mana China tercatat sebagai negara yang ikut menandatanganinya. Dan naasnya lagi perairan Natuna masuk dalam Nine Dash Line tersebut. Inilah yang menjadi sebab seringkali kita jumpai berita terkait “gesekan” yang terjadi diperairan tersebut antara penegak hukum Indonesia (Bakamla, TNI AL dll) dengan nelayan atau coast guard China.

Nine Dash Line
Nine Dash Line China di Lau China Selatan.
Kredit: pinterest.com

Adapun agresifitas China dalam menduduki secara paksa beberapa pulau di Laut China Selatan membuat khawatir tetangganya (beberapa negara Asia Tenggara). Kekhawatiran negara-negara tersebut masuk akal, mereka sangat menyadari bahwa ini hanyalah awal dari ekspansi China di wilayah tersebut. Tidak ada keraguan bahwa di bawah perlindungan langsung oleh angkatan militernya yang masif dan kuat, China secara pelan namun pasti akan terus menempati secara permanen sisa-sisa pulau tak berpenghuni lainnya yang tersebar di wilayah tersebut. Dengan kehadiran militer beserta aset-asetnya secara permanen di Laut China Selatan, Beijing sudah pasti akan menggunakan aset tersebut sebagai “batu pijakan” untuk menegakkan klaimnya atas kontrol wilayah tersebut. Apesnya, negara-negara yang berkonfrontasi tersebut tidak memiliki kemampuan baik dari segi: militer, ekonomi, politik, dll dalam menantang klaim Beijing tersebut.

Kunjungi Juga:  Opini 4+ Senjata Armenia Yang Berpotensi Menjadi "Game Changer"

Langkah ekspansi China dimulai dari Kepulauan Paracel (rangkaian kepulauan yang terletak sekitar 200 km di tenggara wilayah Tiongkok paling selatan) pada tahun 1974 yang dimana Beijing secara paksa merebut kepulauan tersebut dari Vietnam Selatan. Kemudian giliran kepulauan Spratly yang diduduki secara ilegal yang dimulai dari tahun 1988 hingga sekarang. Rangkaian kepulauan yang terletak 800 Km dari daratan utama China tersebut, telah direklamasi secara besar-besaran yang dimana Beijing mendirikan pangkalan militer permanen lengkap dengan pelabuhan, lapangan udara, hanggar pesawat, jalan raya, gedung pemukiman dan administrasi. Bukan hanya itu, China pada tahun 2014 mulai menginstal sistem radar peringatan dini dan sistem pertahanan udara di pangkalan tersebut.

Invasi China ke Paracel Island Tahun 1974
Ilustrasi ekspansi PLA ke Kepulauan Paracel tahun 1974.
Kredit: pinterest.com

Hingga artikel ini dibuat, China telah merebut, menduduki dan mereklamasi serangkain wilayah di Laut China Selatan, adapun “track record” aktivitas Beijing di wilayah ini yang penulis himpun dari berbagai sumber yaitu sebagai berikut:

  • Mischief Reef, terletak di bagian timur Kepulauan Spratly dengan luas yang diperpanjang hingga 558 ha dan talah dibangun landasan pacu sepanjang 2644 m.
  • Terumbu karang Subi, merupakan bagian dari kepulauan Spratly. Dipulau ini telah dibangun pangkalan militer, pelabuhan besar dan landasan pacu dengan luas sekitar 3000 m.
  • Terumbu karang Johnson South Reef, merupakan bagian dari Kepulauan Spratly. Dengan area yang dapat digunakan seluas 10,9 ha, China telah membangun pos radar dan pelabuhan kecil di pulau tersebut,
  • Terumbu karang Carteron, juga merupakan bagian dari kepulauan Spratly. Dengan luas yang dapat digunakan sekitar 23 ha, China telah membangun landasan helipad, sistem persenjataan dan radar.
  • Terumbu Karang Gaven, merupakan bagian dari kepulauan Spratly. Dengan luas mencapai 13 ha, China telah mengintal sistem radar peringatan dini, sistem komunikasi, sistem pertahanan udara.
  • Terumbu karang Hughes, merupakan bagian dari Kepulauan Spratly dengan luas mencapai 7,6 ha. Beijing telah membangun pos militer kecil, mercusuar dan peluncur roket.
  • Pulau Woody adalh pulau terbesar di kepulauan Paracel. Di Pulai ini China telah membangun pangkalan udara sipil-militer yang mampu menampung pesawat bomber jarak jauh dan sistem pertahanan udara jarak jauh HQ-9.
Kunjungi Juga:  Opini 5+ Varian Tercanggih dari Sukhoi-27 "Flanker"
Video menarik terkait ekspansi China di Laut China Selatan.
Kredit: youtube/TLDR News

Penutup

Dengan pelan namun pasti China telah berhasil secara permanen membangun kapal induk “statis” melalui serangkaian pulau kecil sepanjang 1500 Km di Laut China Selatan. Penulis percaya bahwa sekarang hanya masalah waktu sebelum Beijing mulai secara paksa menegakkan haknya untuk menggunakan atau mengeksploitasi seluruh sumber daya alam di Laut China Selatan tersebut. Tidak sampai disana, China juga nampaknya tidak menggubris protes dari negara tetangganya bahkan berupaya menekan balik tetangganya yang lebih kecil dan lebih lemah baik itu melalui “hard power“(militer, milisi bersenjata dll) ataupun “soft power” (diplomasi, ekonomi, politik, jebakan hutang dll).

Sejauh ini sudah sering kita saksikan bersama kehadiran dari nelayan China yang di backup oleh kapal penjaga pantai China yang beroperasi ribuan kilometer dari markasnya didaratan utama, kapal survei dan penelitian China yang sering wara-wiri di perairan ini dan serangkaian insiden atau konflik yang terjadi berkat kehadiran kapal China di wilayah ini. Dengan tidak adanya ketegasan dari negara-negara yang bertikai dengan China untuk bersatu dalam menghadapi agresivitas Beijing di Laut China Selatan maka hanya tinggal menunggu waktu bagi Beijing untuk menerapkan “China Law” di wilayah tersebut. Sekian dari penulis, semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian dan mohon maaf jika terdapat kekurangan dalam tulisan ini. Tidak lupa penulis mengharapkan kritik yang konstruktif serta saran dari pembaca yang budiman, silakan disampaikan dalam form komentar dibawah. Salam dari penulis nusantaradefense.com dan sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Sumber Referensi:

  1. https://www.matamatapolitik.com/mengapa-peawat-kargo-y-20-besar-china-mendarat-di-fiery-cross-reef-news/
  2. https://en.wikipedia.org/wiki/Fiery_Cross_Reef
  3. https://news.detik.com/internasional/d-3251971/ini-putusan-lengkap-mahkamah-arbitrase-soal-laut-china-selatan
  4. https://www.wartaekonomi.co.id/read265313/apa-itu-nine-dash-line-atau-9-garis-putus-putus-yang-china-klaim-di-laut-natuna
  5. https://id.wikipedia.org/wiki/Perebutan_wilayah_di_Laut_Tiongkok_Selatan
Share this article
Ambisi China Membangun Kapal Induk Statis di LCS
Next Post

No more post

Seorang militer enthusiast dan silent reader dibeberapa forum serta website militer baik dalam maupun luar negeri yang akhirnya memutuskan untuk mulai menulis diblog ini. Hobby mengoleksi artikel, literatur, buku serta apapun yang berhubungan dengan militer.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *